Sabtu, 31 Oktober 2015

Psikologi Manajemen


Psikologi manajemen adalah ilmu tentang bagaimana mengatur atau me-manage sumber daya yang ada untuk memenuhi kebutuhan.
Kenapa Psikologi dan Manajemen memiliki hubungan? Psikologi dan Manajemen dapat saling berhubungan karena dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur Sumber Daya Manusia (SDM) ternyata juga merupakan modal yang terpenting dari beberapa modal kerja perusahaan manapun.


https://silvinamar.wordpress.com/2013/10/27/psikologi-manajemenorganisasidan-komunikasi/


Pengertian Organisasi adalah sekumpulan orang yang yang terstruktut dan saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.
Pengertian Kelompok adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang berinteraksi dan mereka saling bergantung (interdependent) dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan bersama, meyebabkan satu sama lain saling mempengaruhi.
1    Kelompok formal diberi batasan oleh struktur organisasi, yang berisi rincian tugas-tugas pekerjaan dan tanggung jawab tertentu, yang pelaksanaannya akan menuju ke tercapainya sasaran dan misi keseluruhan 1organisasinya.
2     Kelompok informal tidak diberi batasan oleh struktur organisasi dan terjadi secara spontan antara sejumlah tenaga kerja, sebagai jawaban terhadap kebutuhan tertentu dari mereka.

Kelompok Kerja yang terdiri dari beberapa model :
1       .     Kelompok interaktif dimana pada kelompok ini, para anggotanya saling tergantung dan aksi atau tindakan mereka perlu dikerjakan dan disusun bersama untuk dapat menyelesaikan tugas kelompok dengan baik.
Misalnya, kelompok kerja pengebor minyak, kelompok kerja atau tim bedah, kelompok pemecahan masalah (problem solving team), tim sepak bola, tim bola voli, dan lain-lain.
2       .    Kelompok koaktif anggota dari kelompok ini bekerja sama dalam melaksanakan tugas kelompok, tapi masing – masing dapat melaksanakan pekerjaannya relative secara mandiri tidak saling tergantung.
Misalnya kelompok pramuniaga (salesman), kepala subbagian analisis jabatan, kepala subbagian kesejahteraan.
Fungsi Kelompok Bagi Anggotanya, antara lain :
a.      Fungsi Kelompok sebagai Pemenuh Kebutuhan Para Anggotanya.
b.     Fungsi Kelompok sebagai Pengembang, Penunjang dan Pemantap dari Identitas dan Pemelihara     Harga Diri.
c.      Fungsi Kelompok sebagai Penetap dan Penguji Kenyataan/Realitas Sosial.
d.      Fungsi Kelompok sebagai Mekanisme Pemecahan Masalah dan Pelaksanaan Tugas.

Selasa, 28 April 2015

Hubungan Kesehatan Mental dengan Social Support

Melihat Hubungan Kesehatan Mental dengan Social Support pada Fenomena Stres dari Wanita Menopouse

Dalam membahas hubungan antara kesehatan mental dengan social support, kita dapat melihatnya pada fenomena stres yang dialami wanita menopouse yang mengalami beberapa gejala psikologis seperti; kecemasan, rasa panik dan harga diri menurun, dengan begitu untuk dapat mengatasi beberapa gejala psikologis yang mempengaruhi kesehatan mental dari wanita yang menopous tersebut perlu adanya dukungan dari lingkungan sekitar atau orang-orang terdekat untuk memberi dukungan agar dapat menjalani kehidupan biasa meski dengan keadaan yang tidak produktif lagi (menopous).
Menopause merupakan suatu fase alamiah dimana berakhirnya kemampuan wanita untuk bereproduksi yang ditandai dengan berhentinya siklus menstruasi pada wanita. Secara normal wanita akan mengalami menopause antara usia 45 tahun sampai 55 tahun, dan seorang wanita dikatakan mengalami menopause bila siklus menstruasinya telah berhenti selama 12 bulan (Kasdu, 2003).
Perubahan fisik yang terjadi ketika menopause disertai juga dengan beberapa gejala psikologis yang menonjol, seperti stress, frustasi dan adanya penolakan terhadap menopause (Papalia, 2003). Hal tersebut dapat kita sebut sebagai gangguan pada kesehatan mental.

www.nyata.co.id

Namun, tidak wanita yang mengalami menopause merasakan hal tersebut. Beberapa wanita menganggap menopause sebagai hal yang biasa dalam hidupnya. Mereka menganggap bahwa setelah masa reproduksi berakhir, mereka tidak akan direpotkan lagi dengan haid yang datang rutin setiap bulan sehingga tidak mengganggu aktivitas mereka, terutama aktivitas yang berhubungan dengan keagamaan, misalnya ibadah shalat bagi wanita yang beragama Islam. Ibrahim (2002) juga mengungkapkan bahwa beberapa wanita justru menemukan kesenangan pada masa menopause, salah satunya dengan memperkuat benteng agama. Wanita juga menunjukkan perhatian yang lebih pada masalah agama dan kehidupan setelah kematian. Mereka menjalankan berbagai kewajiban beribadah, mendatangi ahli agama untuk mendapatkan bimbingan, nasihat dan penyuluhan rohani.
Gejala-gejala lain yang muncul saat menopause adalah perasaan menurunnya harga diri karena menurunnya daya tarik fisik dan seksual, mereka merasa tidak dibutuhkan oleh suami dan anak-anak mereka, serta merasa kehilangan femininitas karena fungsi reproduksi yang menurun (dalam Zainuddin, 2005). Dacey & Travers (2002) juga menyatakan bahwa seseorang yang mengalami menopause sering sulit berkonsentrasi, sering lupa, kesepian, suasana hati tidak menentu, dan sering merasa cemas.
Dengan demikian bahwa wanita yang merasa stress, harga dirinya menurun, frustasi dan adanya penolakan terhadap menopous adalah wanita yang telah mengalami gangguan kesehatan mental (Psikologis). Sementara gangguan kesehatan mental tersebut ternyata dapat diatasi dengan kecerdasan spiritual dan social support.
Dukungan sosial (social support) didefenisikan oleh Gottlieb (1983) sebagai informasi verbal atau non-verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah laku yang diberikan oleh orang-orang yang akrab dengan subjek di dalam lingkungan sosialnya dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya. Dalam hal ini orang yang merasa memperoleh dukungan sosial, secara emosional merasa lega karena diperhatikan, mendapat saran atau kesan yang menyenangkan pada dirinya. Pendapat senada dikemukakan juga oleh Sarason (1983) yang mengatakan bahwa dukungan sosial adalah keberadaan, kesediaan, kepedulian dari orang-orang yang dapat diandalkan, menghargai dan menyayangi kita. Rice (1987) mengartikan dukungan sosial sebagai bantuan yang diberikan oleh pasangan (suami/istri), orang tua dan teman-teman.

www.ummi-online.com


Berdasarkan beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dukungan sosial adalah bantuan atau dukungan yang diberikan oleh orang-orang di sekitar individu yang mampu membuat individu merasa nyaman kembali, baik secara fisik maupun psikologis sebagai bukti bahwa mereka diperhatikan dan dicintai.
Maka dari fenomena stres pada wanita yang mengalami menopouse yang membutuhkan dukungan sosial tadi telah menggambarkan bagaimana hubungan yang jelas antara kesehatan mental dengan social support. Karena dengan adanya social support , gejala-gejala psikologis dari wanita yang mengalami menopous tersebut dapat teratasi.


Daftar Pustaka :

Mackenzie, Raewyn, Menopause Tuntunan Praktis untuk wanita (terj.) Gianto Widianto dan Yustina Risitawati (Jakarta: Arcan, 1995), cet. V.
Roitz, Rosetta, Menopause Suatu Pendekatan Positif (terj.) Laila H. Hasyim (Ttp.: PT. Bumi Aksara, 1993).
Papalia, Diane E. 2003. Experience Human Development ; Twelfth Edition. Mc Graw Hill



Fenomena Stres pada Wanita

Fenomena Stres pada Wanita

Stress merupakan keadaan yang sudah tidak asing lagi bagi kita sebagai Manusia, hampir semua dari kita pernah mengalaminya , baik laki-laki atau perempuan. J.P Chaplin dalam Kamus Lengkap Psikologi mendefinisikan stress sebagai Satu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikologis. Keadaan sosial, lingkungan dan fisikal yang menyebabkan stress dinamakan stressol. Sementara reaksi orang terhadap peristiwa tersebut dinamkan respon stress, atau secara singkat dikatan sebagai stres.
www.naridnilijek.com

Stress yang kita alami tidak selamanya jelek, stress ringan perlu kita alami untuk menghasilkan kewaspadaan dan minat pada tugas atau hal lain yang sedang kita hadapi, dengan begitu stress juga membantu orang yang mengalaminya untuk melakukan penyesuaian. Sedangkan yang dikatakan sebagai stress yang jelek adalah stress yang melekat kuat pada orang yang mengalaminya dan bertahan lama. Stress yang seperti ini sering dianggap dapat menganggu jasmani dan rohani orang yang mengalaminya.
Menurut Lazarus 1999 (dalam Rod Plotnik 2005;481), “Stress is the anxious or threatening feeling that comes when we interpret or appraise a situation as being more than our psychological resources can adequately handle”. (“Stres adalah rasa cemas atau rasa terancam yang timbul ketika kita menginterpretasikan atau menilai suatu situasi yang melampaui kemampuan psikologis kita untuk bisa menanganinya secara memadai”.
Stress yang timbul pada setiap orang pun bisa berbeda-beda dan berdampak yang berbeda-beda pula. Stress yang menurut kita ringan bisa menjadi stress berat pada orang lain, begitu juga pada dampak yang kita rasakan, bagi kita merupakan keterpurukan tetapi mungkin pada orang lain merupakan sebuah tantangan untuk bangkit dan lebih bersemangat. Seperti halnya beberapa fenomena mengenai stres yang terjadi pada wanita, entah itu stres mengenai pekerjaan, hubungan karib atau dengan pasangan, masa PMS atau yang akan saya bahas ini ialah mengenai Menopouse pada wanita. Dari kalangan wanita sendiri ada yang menganggap menopause sebagai hal yang menakutkan, tetapi ada pula wanita yang menganggap menopause sebagai kondisi yang biasa saja, sebagai hal fisiologis yang wajar.
Menopause biasa terjadi pada wanita di usia sekitar 40 tahun atau lebih, terjadinya siklus haid yang tidak teratur atau sering disebut menopause yaitu penurunan fungsi ovarium dimana hormone prestogen sudah sangat berkurang tetapi masih ada sedikit hormone estrogen yang dari hal tersebut sering kali menyebabkan ketidakseimbangan hormonal.
Dalam buku Papalia “Experience Human Development” – edisi 12, sedikit dijelaskan disana bahwa pada wanita yang baru mengalami atau menyadari dirinya menopause, hal pertama yang mereka rasakan ialah munculnya kecemasan atau rasa panik. Rasa cemas atau panic disini dapat diartikan sebagai keadaan stres.
Perasaan cemas merupakan gejala psikologis yang muncul saat menopause. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Robertson (dalam Retnowati, 2000) di Menopause Clinical Australia, dari 300 pasien usia menopause, terdapat 31.3 % pasien diantaranya mengalami kecemasan. Burn (1998) juga menyatakan bahwa wanita menopause sering mengalami kecemasan, dimana kecemasan yang muncul dapat menyebabkan seseorang sulit tidur (gejala fisiologis). Kecemasan yang dialami wanita menopause salah satunya dikarenakan adanya kekhawatiran dalam mengahadapi situasi yang sebelumnya tidak pernah dialami dan juga cemas akan hal-hal yang mungkin muncul menyertai berakhirnya masa reproduksinya (Kasdu, 2002).
www.primaharapan.com
Mereka juga cemas dengan berakhirnya masa reproduksi yang dapat menghilangkan kebanggaannya sebagai wanita, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi hubungannya dengan suami ataupun keluarganya. Berhentinya siklus menstruasi juga sering dirasakan sebagai hilangnya sifat inti kewanitaan, dan sebagai akibatnya timbul perasaan tidak berharga dan tidak berarti sehingga muncul rasa khawatir bahwa orang-orang yang dicintainya akan berpaling dan meninggalkannya (Muhammad, dalam pengertian tentang menopause, 2003). Seseorang yang menjalani menopause juga cemas akan kondisi tubuhnya seperti pegal-pegal, cepat letih, jantung berdebar-debar, nyeri sendi dan sakit kepala (Spencer & Brown, 2007). Perubahan tubuh dan tekstur kulit juga dapat membuat wanita kurang percaya diri sehingga takut kecantikannya akan menurun serta takut suami tidak akan lagi tertarik padanya (Kuncoro, 2004). Supriyadi (dalam Apakah itu menopause, 2001) menyatakan bahwa gejala-gejala psikologis pada wanita yang mengalami menopause biasanya tidak muncul pada orang-orang di desa, melainkan pada wanita perkotaan yang mempunyai beban pikiran yang lebih banyak. Spielberg (1972) menyatakan bahwa individu dengan pendidikan tinggi biasanya akan memiliki kecemasan yang lebih rendah dibandingkan dengan individu yang berpendidikan rendah. Penelitian yang dilakukan oleh Yuliastri (2002) menunjukkan bahwa ada perbedaan kecemasan antara wanita menopause yang bekerja dengan yang tidak bekerja, dimana wanita yang bekerja kecemasannya lebih rendah daripada wanita yang tidak bekerja.
Coleman (dalam Fisher, 1998) menyatakan bahwa kecemasan tergantung pada beberapa hal, salah satunya Perempuan lebih cemas akan ketidakmampuannya dibandingkan laki-laki. Perempuan juga lebih cemas, kurang sabar, dan mudah mengeluarkan air mata (Myers, 1983).

Dari keadian diatas dapat disimpulkan bahwa rasa cemas yang dialami wanita menjelang menopause merupakan gejala stres. Mengapa demikian? seperti pada teori yang dikemukakan Lazarus, stres merupakan rasa cemas. Dan dari peristiwa tersebut dapat kita lihat juga bahwa sumber stres yang dialami wanita menopause ialah bersumber pada peristiwa yang tidak dapat diperkirakan. Karena para wanita yang telah difonis menopause merasa cemas akan hal-hal yang akan terjadi pada dirinya di masa yang akan datang, entah dari sisi psikologis atau fisiologis. Yang jelas jika mereka mampu mempersiapkan diri sebelum terjadinya sesuatu hal yang tidak mengenakkan maka mereka dapat memperkecil efek dari stimulus stres (stressol). –(dalam buku Heru Basuki 2008;247).
Dari apa yang di kemukakan Coleman (dalam fisher, 1998) dapat kita simpulkan bahwa wanita memang lebih rentan mengalami stres di bandingkan laki-laki, karena wanita lebih mudah cemas terhadap ketidak mampuannya dibandingkan dengan laki-laki.


Daftar Pustaka :

Basuki, A.M Heru. 2008. Psikologi Umum ; Seri Diktat Kuliah. Universitas Gunadarma

Papalia, Diane E. Experience Human Development ; Twelfth Edition. Mc Graw Hill

Senin, 16 Maret 2015

Kesehatan Mental ; Sejarah, Konsep, dan Konsep Pengaruh Budaya

Kesehatan Mental

Ade Fauzan Adzim A
Npm : 10513130
  
Sejarah Kesehatan Mental 

Sejarah dari kesehatan mental tidakseperti atau sejelas dari sejarah ilmu kedokteran.Inidikarenakan masalah mental bukan merupakan masalah fisik yang dengan mudah dapat diamati dengan indera pengelihatan kita, dalam artian tidak terlihat. Berbeda dengan gangguan fisik yang bisa dikatan dapat dengan mudah dideteksi, orang yang mengalami gangguan kesehatan mental tergolong sulit untuk terdeteksi. Sekalipun oleh anggota keluarganya yang merupakan orang terdekatnya sendiri. Hal ini lebih karena mereka sehari-hari hidup bersama sehingga tingkah laku yang mengindikasikan gangguan mental dianggap hal biasa yang dianggap wajar-wajar saja, bukan sebagai gangguan.


Khusus pada  masyarakat Indonesia, masalah kesehatan mental saat ini belum begitu mendapat perhatian yang serius. Krisis yang saat ini melanda masyarakat Indonesia membuat perhatian terhadap kesehatan mental kurang terpikirkan. Kebayakan orang masih fokus pada masalah kuratif, kurang memperhatikan hal-hal preventif untuk menjaga mental agar tetap sehat. Tingkat pendidikan yang beragam dan terbatasnya pengetahuan mengenai perilaku manusia turut  membawa dampak kurangnya kepekaan masyarakat terhadap anggotanya yang semestinya mendapatkan pertolongan dan perhatian yang baik di bidang kesehatan mental.
Pada Zaman Prasejarah
Manusia purba sering mengalami gangguan mental atau fisik, seperti infeksi, artritis, penyakit pernapasan dan usus, serta penyempitan pembuluh darah. Tetapi manusia purba benar-benar berusaha mengatasi penyakit mental. Ia memandang dan merawatnya sama seperti halnya dengan penyakit fisik lainya.
Tetapi sungguh menggembirakan karena pasien sakit mental tetap diperlakukan secara manusiawi. Dalam perkembangan selanjutnya pada waktu sejarah mulai tercatat walaupun ada beberapa pengecualian peradaban-peradaban manusia di tandai dengan penganiayaan terhadap para pasien sakit mental diperlakukan dengan kasar dan kejam serta mereka dipandang sebagai penggangu masyarakat. Lagi pula dewasa ini orang kadang-kadang memperlakukan para pasien sakit mental tanpa belas kasihan dibandingkan dengan orang-orang  zaman purba. 
Ada spekulasi yang dapat diterima bahwa beberapa gejala penyakit mental dewasa ini sangat mirip dengan yang dijumpai pada zaman dahulu. Gejala-gejala penyakit mental zaman dahulu dan sekarang mungkin berhubungan sama halnya kita sendiri juga berhubungan dengan paraa nenek moyang kita. Penyebab-penyebab penyakit mental zaman dahulu dapat juga dianggap berhubungan dengan penyakit mental zaman kita.  
Para pendahulu psikiater dan psikolog kita muncul pada zaman purba. Penyakit mental tentu saja merupakan bagian dari bidang praktek mereka. Sering kali dukun-dukun ini merupakan para cendikiawan yang lebih baik dari kelompok. Lagi pula hubungan natara agama dan penyakit mental lebih erat dibandingkan dengan hubungan antara agama dan penyakit lain.
Pada Zaman Peradaban Awal
Dalam semua peradaban awal yang kita kenal di mesopotamia, mesir, yahudi, india, cina dan benua amerika, imam-imam, tukang sihir merawat orang yang sakit mental. Diantara semua peradaban tersebut sepanjang zaman kuno penyakit mental mulai menjadi hal yang umum. Bersama dengan penderita-penderita lain, kekalutan-kekalutan mental menjadi kawan separjalanan yang setia bagi manusia pada waktu ia bergerak menuju kehidupan yang terorganisir. Ilmu kedokteran menjadi lebih terorganisasi waktu peradaban-peradan menjadi lebih maju.
Di mesopotamia Penyakit mental dihubungkan dengan setan-setan dan pengobatan atau perawatanya dilakukan dengan upacara-upacara agama dan upacara-upacara magis supaya setan keluar dari tubuh si pasien. Orang-orang mesir memiliki sekolah kedokteran di kuil imhotep. Di kuil tersebut terdapat sebuah rumah sakit di sana dikembangkan terapi untuk pasien berupa rekreasi dan pekerjaan serta di terapkan semacam psikoterapi yang serupa dengan beberapa pendekatan yang sangat moder untuk mengobati penyaklit mental.


Di mesir juga dokter-dokter yang sekaligus imam, kepercayaan akan setan dan suatu pendekatan untuk merawat penyakit mental yang serupa dengan yang terdapat di mesir dan mesopotamia juga merupakan ciri khas dari ilmu kedokteran yahudi, tetapi kepercayaan akan satu alLah sebagai sumber segala kehidupan termsuk kesehatan dan penyakit mental merupakan perbedaan pokok dengan ilmu kedokteran dari peradaban awal lainya.
Di persia setan-setan dipersalahkan karena menyebabkan penyakit-penyakit mental dan segala penyakit. Mental yang baik atau kekuatan psikis/jiwa selalu mencari kesucian, kebajikan dan kebaikan hati. Metode-metode pengobatan cina dn hindu mirip dengan yang terdapat di persia. Ada kepercayaan-kepercayaan yang serupa dengan kekuatan-kekuatan yang berperang antara yang baik dengan yangburuk. Dalam pandangan orang cina gangguan mental dilihat sebagai penyakit dan dianggap sebagai gangguan proses alam atau ketidak seimbangan antara Yin dan Yang.
Karena gangguan mental dianggap sebaai tidak adanya keseimbangan fisik maka orang yang mengalami gangguan mental tidak dianggap sebagai yang memalukan. Demikian juga orang hindu memiliki kekuatan baik yngh disebut VISHNU dan berperang melawan kekuatan jahat yang disebut SHIVA. Di afrika masyarakat berpendapat bahwa gangguan fisik dan mental di sebabkan oleh musuh-muh, roh jhat atau dalam beberapa kasus oleh nenek moyang yang marah. Beberapamasyarakat tradisional afrika berpendapat bahwa penyakt disebabkan oleh penyebab-penyebab natural (fisik).
Phytagoras (orang yang pertama memberi penjelasan alamiah terhadap penyakit mental),  Hypocrates (Ia berpendapat penyakit / gangguan otak adalah penyebab penyakit mental), Plato (gangguan mental sebagian gangguan moral, gangguan fisik dan sebagiaan lagi dari dewa dewa)
Pada Zaman Renaissesus
Pada zaman ini dibeberapa negara Eropa, para tokoh keagamaan, ilmu kedokteran dan filsafat mulai menyangkal anggapan bahwa pasien sakit mental tenggelam dalam dunia tahayul.
Setelah Abad ke XVII – XX
                        Peralihan dari pendekatan demologis ke pendekatan ilmiah terhadap penyakit mental tidak terjadi dalam waktu yang singkat.Di Prancis misalnya hukuman mati bagi tukang sihir tidak dicabut sampai tahun 1862.Kecendrungan umum pertama terhadap perawatan khusus bagi para pasien sakit mental mungkin sekali muncul setelah pembaruan-pembaruan social, politik dan ilmu pengetahuan yang menjadi ciri dari pertengahan abad ke 18.
                Pada awal abad ke 18 perhatian dipusatkan pada klasifikasi dan system suatu hal yang mungkin sama dengan analisis system. Kemajuan-kemajuan dalam ilmu kedokteran fisik dengan identifikasi, penyelidikan dan usaha untuki secara rasional mengobati banyak penyakit yang sampai saat itu dilihat sebagai sesuatu yang misterius dan magis.
                Phillipe Pinel memulai karyanya pada pengobatan psikiatri pada permulaan nabad ke 19 segera setelah revolusi.Ia tetap sebagai dokter yang bertanggung jawab terhadap la bicetre rumah sakit mental di paris. Ia memelopori perlakuan dan pemahaman manusiawi terhadap orang-orang yang mengalami kekalutan mental.willian tuke mendirikan York Retreat  pada waktu pinel mengorganisasikan rumah sakit mental di Prancis. Usaha kelompok kecil dari tuke itu lambat laun mendapat dukungan dari John Conolly, Samuel Hitch dan para Psikolog Medis lain yang hebat dari Inggris.
                Pada wahun 1841 vHitsch mulai nmenggunakan perawatan wanita yang terlatih di bangsa-bangsa rumah sakit jiwa Gloucester dan menempatkan pengawasan-pengawasan untuk memimpin staf perawatan.Anton muller yang bekerja disebuah rumah sakit mental menyarankan perawatan yang manusiawi terhadap orang-orang gila dan menentang kekangan yang sangat tajam terhadap para pasien sakit mental.
                Di Amerika latin rumah sakit yang paling awal mulai muncul pada pada tahun 1820an. Pada tahun 1847 para pengunjung ke meksiko dan perlu melaporkan bahwa orang gila dipakai sebagai hiburan untuk masyarakat umum yang membayar untuk pertunjukan itu. Keberhasilan dari eksperimen Pinel dan Tuke dalam metode yang lebih berperi-kemanusiaan menimbulkan revolusi para perawatan para pasien penderita sakit mental di seluruh dunia.Kemudian pada pertengahan abad ke 19 dimana tukang sihir dibakar di Amerika, yang kemudian di Eropa munculah revolusi pertama untuk menangani secara manusiawi dan memperbaiki lembaga-lembaga penyakit mental yang dimulai oleh seorang guru wanita dari Massachusetts, Dorothea Lynde Dix.
                 Lalu gerakan ilmu kesehatan mental tersebut tidak lama kemudian di prakarsai oleh Clifford Wittingham Beers. Selama 3 tahun ia di Rumah Sakit negeri dan swasta di Connecticut Beers mengalami perlakuan yang tidak manusiawi dari pegawai-pegawai rumah serta tetap memakai baju tidur dan terikat selama beberapa jam.
                Pada tahun 1919 di bentuk international Committee for Nental Hygiene dengan markasr besarnya di amerika serikat. Pada tahun 1930 ketika kongres international I din adakan di Washington DC., ada 53 bnegara terbagi di dalam kongres tersebut. Pengakuan terhadap cita-cita preventif yang di sponsori oleh nasional comunitee for Mental Hygiene datang pada tanggal 3 juli 1946 ketika kongres amerika serikat mengesahkan undang-undang kesehatan mental nasional. Pengesahan Undang undang oleh kongres amerika serikat ini jelas merupakan pengakuan teradap usaha-usaha Clifford Beers.Sebagai punbcak dari gerakan besar yanbg dimulai di New Haven, Connecticut ini, maka dibentuk federasi dunia kesehatan mental pada tahun 1948.
                Seorang dokter Perancis, Philipe Pinel (1745-1826) menggunakan filsafat polotik dan sosial yang baru untuk memecahkan problem penyakit mental. Dia terpilih menjadi kepala Rumah Sakit Bicetre di Paris. Di rumah sakit ini, pasiennya dirantai, diikat ketembok dan tempat tidur. Para pasien yang telah di rantai selama 20 tahun atau lebih, dan mereka dianggap sangat berbahaya dibawa jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Akhirnya, diantara mereka banyak yang berhasil, mereka tidak lagi menunjukkan kecenderungan untuk melukai atau merusak dirinya.

Konsep Sehat Secara Umum

Sehat dan sakit adalah keadaan biopsikososial yang menyatu dengan kehidupan manusia.Pengenalan manusia terhadap kedua konsep ini kemungkinan bersamaan dengan pengenalannya terhadap kondisi dirinya. Keadaan sehat dan sakit tersebut terus terjadi, dan manusia akan memerankan sebagai orang yang sehat atau sakit.
Konsep sehat dan sakit merupakan bahasa kita sehari-hari, terjadi sepanjang sejarah manusia, dan dikenal di semua kebudayaan.Meskipun demikian untuk menentukan batasan-batasan secara eksak tidaklah mudah.Kesamaan atau kesepakatan pemahaman tentang sehat dan sakit secara universal adalah sangat sulit dicapai.

 Pengertian Sehat (health) adalah konsep yang tidak mudah diartikan sekalipun dapat kita rasakan dan diamati keadaannya.Misalnya, orang tidak memiliki keluhankeluahan fisik dipandang sebagai orang yang sehat.Sebagian masyarakat juga beranggapan bahwa orang yang “gemuk” adalah otrang yang sehat, dan sebagainya.Jadi faktor subyektifitas dan kultural juga mempengaruhi pemahaman dan pengertian orang terhadap konsep sehat.
Sebagai satu acuan untuk memahami konsep “sehat”, World Health Organization (WHO) merumuskan dalam cakupan yang sangat luas, yaitu “keadaan yang sempurnan baik fisik[2], mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat”. Dalam definisi ini, sehat bukan sekedar terbebas dari penyakit atau cacat.Orang yang tidak berpenyakit pun tentunya belum tentu dikatakan sehat.Dia semestinya dalam keadaan yang sempurna, baik fisik, mental, maupun sosial. 
 Pengertian sehat yang dikemukan oleh WHO ini merupakan suatau keadaan ideal, dari sisi biologis, psiologis, dan sosial. Kalau demikian adanya, apakah ada seseorang yang berada dalam kondisi sempurna secara biopsikososial? Untuk mendpat orang yang berada dalam kondisi kesehatan yang sempurna itu sulit sekali, namun yang mendekati pada kondisi ideal tersebut ada.[3]
Dalam kaitan dengan konsepsi WHO tersebut, maka dalam perkembangan kepribadian seseorang itu mempunyai 4 dimensi holistik, yaitu agama, organobiologik, psiko-edukatif dan sosial budaya.Keempat dimensi holistik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut, yaitu :
o   Agama/spiritual, yang merupakan fitrah manusia. Ini merupakan fitrah manusia yang menjadi kebutuhan dasar manusia (basic spiritual needs), mengandung nilai-nilai moral, etika dan hukum. Atau dengan kata lain seseorang yang taat pada hukum, berarti ia bermoral dan beretika, seseorang yang bermoral dan beretika berarti ia beragama (no religion without moral, no moral without law).
o   Organo-biologik, mengandung arti fisik (tubuh/jasmani) termasuk susunan syaraf pusat (otak), yang perkembangannya memerlukan makanan yang bergizi, bebas dari penyakit, yang kejadiannya sejak dari pembuahan, bayi dalam kandungan, kemudian lahir sebagai bayi, dan setrusnya melalui tahapan anak (balita), remaja, dewasa dan usia lanjut .
o   Psiko-edukatif, adalah pendidikan yang diberikan oleh orang tua (ayah dan ibu) termasuk pendidikan agama. Orang tua merupakan tokoh imitasi dan identifikasi anak terhadap orang tuanya. Perkembangan kepribadian anak melalui dimensi psiko-edukatif ini berhenti hingga usia 18 tahun.
o   Sosial-budaya, selain dimensi psiko-edukatif di atas kepribadian seseorang juga dipengaruhi oleh kultur budaya dari lingkungan sosial yang bersangkutan dibesarkan.
  
Konsep dari Kesehatan Mental

Memahami konsep kesehatan kita tidak pernah lupa dan tidak pernah dapat dilepaskan dari pengaruh sejarah dan kemajuan kebudayaan.Sepanjang sejarah makna sehat dan sakit ternyata sangat dipengaruhi dengan peradaban.


Budaya barat dan timur ternyata memiliki perbedaan yang mendasar mengenai konsep sehat dan sakit.Perbedaan ini kemudian mempengaruhi sistem pengobatan di kedua kebudayaan. Akibatnya,pandangan mengenai kesehatan mental juga berbeda. Namun dengan kemajuan teknologi dan komunikasi yang membuat relasi antar manusia semakin mengglobal, pertemuan kebudayaan ini tidak lagi dapat dihindari sehingga sekarang ini ditemui berbagai cara penanganan kesehatan yang mencoba mengintegrasikan system pengobatan antara kedua kebudayaan.
Pengaruh Budaya Terhadap Konsep Kesehatan.

Pengertian kesehatan menurut WHO tampaknya juga mengalami perkembangan menjadi kompleks. Kemudian WHO juga mendefinisikan kesehatan sebagai: “…keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental(rohani) dan social, dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penakit, cacat dan kelemahan …….”(smet, 1994). Adapun pengertian tersebut menyebabkan kebijakan di bidang keshatan mengalami perubahan  dahulu segala upaya dilakukan dngan tujuan untuk menyembuhkan/mengobati penyakit.stelah berbagai macam dan berbagai macam temuan teknologi di upayakan dapat kearah penyembuhan. Yang akibatnya berbagai teknologi modern diketemukan sehingga berbagai macam penyakt dan gangguan lainnya bisa diatasi.

Pergeseran teknologi modern tersebut membuka peluang bagi lmu – ilmu social umumnya dan ilmu – ilmu perilaku.Khususnya untuk memberikan sumbangan bagi upaya – upaya tersebut.Dan bidang – bidang baru sudah mulai bermunculan, seperti sosiologi kesehatan, anthropologi kesehatan, psikologi kesehatan, dan masih banyak lagi.
Perhatian mengenai kesehatan dalam kaitannya dengan keanekaragaman budaya juga menjadi salah satu bidang kajian yang diminati oleh Psikologi Lintas Budaya(berry, 1999).

Sebagai perbandingan, bidang psikologi (kepribadian) sekarang ini mengembangkan pandangan yang baru mengenai apa yang disebut sebagai “kepribadian sehat”. Pandangan ini berbeda dengan pandangan psikologi yang tradisionalis (misalnya psikoanalisa dan behaviorisme) dalam memandang kodrat manusia.Pada psikologi tradisionalis, konsep tentang sehat kurang lebih mirip dengan konsep mengenai kesehatan seperti yang dikemukakan diatas yaitu, tidak adanya gejala – gejala yang cukup untuk memasukan individu kedalam kategori gangguan (kepribadian) tertentu. Atau dengan kata lain, kepribadian sehat yang mempunyai titik tolak dari apakah individu tersebut berbeda dari mereka yang nyta – nyata terganggu atau tidak. Di lihat dari sudut pandang statistik, kepribadian sehat adalah kepribadian individu umumnya, yang bila digambarkan secara statistik berada didalam kurva normal, sementara kepribadian yang tidak sehat adalah kepribadian yang berada di luar kurve normal tersebut.

Oleh karena itu, untuk membedakan pengertian sehat yang dipakai oleh umum dengan sehat yang betul – betul sehat, pandangan ini memprkenalkan “adisehat”atau “adinormal” untuk mengelompokkan orang – orang yang berbeda dari masyarakat umumnya tetapi yang betul – betul mampu mengaktualkan segenap potensi yang dimilikinya (Schultz, 1993).

 Konsep Kesehatan Mental dari Budaya Barat dan Timur

        
Model-model kesehatan muncul karena banyaknya asumsi mengenai kesehatan, seperti halnya model kesehatan dari Barat dan juga Timur.Akan tetapi, dalam model-model itu terdapat variasi yang disebabkan karena adanya perbedaan budaya di antara model-model tersebut.

o  Model Biomedis (Freund, 1991)


Model ini memiliki 5 asumsi. Pertama, terdapat perbedaan yang nyata antara tubuh dan jiwa, sehingga penyakit diyakini berada pada suatu bagian tubuh tertentu.Kedua, penyakit dapat direduksi pada gangguan fungsi tubuh, baik secara biokimia atau neurofisiologis.Ketiga, setiap penyakit disebabkan oleh suatu agen khusus yang berpotensi dapat diidentifikasi. Keempat, melihat tubuh sebagai suatu mesin. Kelima, konsep tubuh adalah objek yang perlu diatur dan dikontrol.




o  Model Psikiatris

Merupakan model yang berkaitan dengan Model Biomedis.Model ini masih mendasarkan diri pada pencarian bukti-bukti fisik dari suatu penyakit dan penggunaan treatmen fisik obat-obatan atau pembedahan untuk mengoreksi abnormalitas.

o  Model Psikosomatis (Tamm, 1993)
 


Merupakan model yang muncul karena adanya ketidakpuasan terhadap model biomedis.Model ini menyatakan bahwa tidak ada penyakit somatik yang tanpa disebabkan oleh antesenden emosional dan atau sosial.Sebaliknya tidak ada penyakit psikis yang tidak disertai oleh simtom-simtom somatik.









Referensi :


Gambar :

http://mysteryology.blogspot.com/