Jumat, 22 April 2016

Kekurangan & Kelemahan Terapi Humanistik



Sejarah Psikologi Humanistik – Eksistensial 
Istilah psikologi humanistik (Humanistic Psychology) diperkenalkan oleh sekelompok ahli psikologi yang pada awal tahun 1960-an bekerja sama di bawah kepemimpinan Abraham Maslow dalam mencari alternatif dari dua teori yang sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam psikologi. Kedua teori yang dimaksud adalah psikoanalisis dan behaviorisme. Maslow menyebut psikologi humanistik sebagai “kekuatan ketiga” (a third force). Meskipun tokoh-tokoh psikologi humanistik memiliki pandangan yang berbeda-beda, tetapi mereka berpijak pada konsepsi fundamental yang sama mengenai manusia, yang berakar pada salah satu aliran filsafat modern, yaitu eksistensialisme. Koeswara menyebutkan bahwa eksistensialisme adalah hal yang mengada-dalam dunia (being-in-the-world), dan menyadari penuh akan keberadaannya (dalam Lubis, 2011). Eksistensialisme menolak paham yang menempatkan manusia semata-mata sebagai hasil bawaan ataupun lingkungan. Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia seolah-olah suatu kesatuan teknik – teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendekatan terapi eksistensial bukan suatu pendekatan terapi tunggal, melainkan suatu pendekatan yang mencakup terapi – terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia. Terapi Psikodinamik cendrung memusatkan perhatian pada proses tak sadar seperti konflik-konflik internal yang terletak diluar kesadaran. Terapi humanisitik-eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami klien pada masa sekarang “disini dan kini” dan bukan masa lampau. Ada persamaan antara terapi psikodinamik dengan terapi-terapi humanistik eksistensial yaitu kaduanya meyakini pada peristiwa masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan individu sekarang dan keduanya juga berusaha meningkatkan pemahaman diri dan kesadaran diri klien.
Pendekatan Eksistensial-Humanistik
Pendekatan eksistensial-humanistik pada hakikatnya mempercayai bahwa individu memiliki potensi untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Pendekatan ini sangat menekankan tentang kebebasan yang bertanggung jawab. Jadi individu diberikan kebebasan seluas-luasnya dalam melakukan tindakan, tetapi harus berani bertanggung jawab sekalipun mengandung resiko bagi dirinya. Menurut Buhler dan Allen (dalam Lubis, 2011), seorang ahli psikologi humanistik harus memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
1.      Menyadari pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2.      Menyadari peran dan tanggung jawab terapis.
3.      Mengakui adanya hubungan timbal balik dalam hubungan konseling atau terapi
4.      Konselor atau terapis harus terlibat sebagai pribadi yg menyeluruh dengan klien.
5.      Mengakui bahwa keputusan dan pilihan akhir terletak di tangan klien.
6.   Memandang konselor atau terapis sebagai model yang dapat menunjukan pada klien potensi bagi tindakan yang kreatif dan positif.
7.      Memberi kebebasan pada klien untuk mengungkapkan pandangan, tujuan, dan nilainya sendiri.
8.      Mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
Pendekatan Eksistensial-Humanistik dikembangkan oleh Victor Frankl, Rolo May, Irvin Yalom, James Bugental, dan Medars Boss. Tokoh yang dikatakan perintis awal perkembangan eksistensial-humanistik ini adalah Frankl dan May. Frankl dulunya memiliki kehidupan yang tidak menyenangkan, menderita dan banyak kepedihan. Ia adalah seorang yahudi. Saat itu adalah zaman Nazi dimana Hitler memerintahkan semua orang yahudi untuk ditahan di suatu perkemahan. Seluruh keluarga Frankl, anak dan istrinya ditahan di perkemahan tersebut, hingga akhirnya seluruh anak dan istrinya meninggal dunia. Hanya tersisa ia seorang diri. Sedangkan May memiliki latar belakang hidup yang tidak jauh berbeda dengan Frankl, yaitu kehidupan yang tidak bahagia. Sudah dua kali May gagal membina pernikahannya dan itu membuatnya sangat terpukul. Berdasarkan latar belakang kehidupan yang seperti itulah mereka kemudian menciptakan suatu teori yag kita kenal sebagi Humanistik-Eksistensial. Teori yang memandang manusia secara positif. Manusia dilihat dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, memiliki potensi untuk berkembang dengan penuh, dan lain-lain. Hal ini merupakan kebalikan dari teori psikoanalisa yang memandang manusia secara negatife. Jadi teori mereka ini didasari oleh pengalaman hidup mereka sendiri.
Psikologi eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Dalam mengembangkan teorinya, psikologi eksistensial-humansistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya, secara manusiawi dengan menitik beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menetukan pilihannya, nilai-nilai tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Konsep-konsep utama dalam pendekatan eksistensial-humanistik adalah:

  • ·         Kesadaran Diri

  • ·         Kebebasan dan Tanggung Jawab Kecemasan

  • ·         Penciptaaan Makna

Prosedur dan Teknik Terapi
Menurut Baldwin (dalam Corey, 1995), inti dari terapi ini adalah:
1.      Kapasitas Untuk Sadar Akan Dirinya : Implikasi Konseling. 
Meningkatkan kesadaran diri, yang mencakup kesadaran akan adanya alternative, motivasi, factor yang mempengaruhi seseorang dan tujuan hidup pribadi, merupakan sasaran dari semua konseling. Adalah tugas terapis untuk menunjukkan kepada klien bahwa peningkatan kesadaran memerlukan imbalan.
2.      Kebebasan dan Tanggung Jawab : Implikasi Konseling. 
May & Yalom (dalam Corey, 1995) menyatakan bahwa terapis eksistensial terus-menerus mengarahkan fokus pada pertanggungjawaban klien atas situasi mereka. Mereka tidak membiarkan klien menyalahkan orang lain, menyalahkan kekuatan dari luar, ataupun menyalahkan bunda mengandug. Apabila klien tidak mau mengakui dan menerima pertanggungjawaban bahwa sebenarnya mereka sendirilah yang menciptakan situasi yang ada, maka sedikit saja motivasi mereka untuk ikut terlibat dalam usaha perubahan pribadi. 
Terapis membantu klien dalam menemukan betapa mereka telah menghindari kebebasan dan membangkitkan semangat mereka untuk belajar mengambil resiko dengan menggunakan kebebasan itu. Kalau tidak berbuat seperti itu berarti klien tak mampu berjalan dan secara neurotik menjadi tergantung pada terapis.

Terapis perlu mengajarkan klien bahwa secara eksplisit mereka menerima fakta bahwa mereka memiliki pilihan, meskipun mereka mungkin selama hidupnya selalu berusaha untuk menghindarinya.


3.      Usaha Untuk Mendapatkan Identitas dan Bisa Berhubungan Dengan Orang Lain : Implikasi Konseling. 
Bagian dari langkah terapeutik terdiri dari tugasnya untuk menantang klien mereka untuk mau memulai meneliti cara dimana mereka telah kehilangan sentuhan identitas mereka, terutama dengan jalan membiarkan orang lain memolakan hidup bagi mereka. Proses terapi itu sendiri sering menakutkan bagi klien manakala mereka melihat kenyataan bahwa mereka telah menyerahkan kebebasan mereka kepada orang lain dan bahwa dalam hubungan terapi mereka terpaksa menerima kembali. Dengan jalan menolak untuk memberikan penyelesaian atau jawaban yang mudah maka terapis memaksa klien berkonfrontasi dengan realitas yang hanya mereka sendiri yang harus bisa menemukan jawaban mereka sendiri.
4.      Pencarian Makna : Implikasi Konseling. 
Berhubungan dengan konsep ketidakbermaknaan adalah apa yang oleh pratis eksistensial disebut sebagai kesalahan eksistensial. Ini adalah kondisi yang tumbuh dari perasaan ketidaksempurnaan atau kesadaran akan kenyataan bahwa orang ternyata tidak menjadi siapa dia seharusnya. Ini adalah kesadaran bahwa tindakan serta pilihan sesorang mengungkapkan kurang dari potensi sepenuhnya yang dimilikinya sebagai pribadi. Manakala orang mengabaikan potensi-potensi tertentu yang dimiliki, maka tentu ada perasaan kesalahan eksistensial ini. Beban kesalahan ini tidak dipandang sebagai neurotik, juga bukan sebagai gejala yang memerlukan penyembuhan. Yang dilakukan oleh terapis eksistensial adalah menggalinya untk mengetahui apa yang bisa dipelajari klie tentang cara mereka menjalani kehidupan. Dan ini bisa digunakan untuk menantang kehadiran makna dan arah hidup.
5.      Kecemasan Sebagai Kondisi Dalam Hidup : Implikasi Konseling. 
Kecemasan merupakan materi dalam sesi terapi produktif. Kalau klien tidak mengalami kecemasan maka motivasi untuk mengalami perubahan menjadi rendah. Jadi, terapis yang berorientasi eksistensial dapat menolong klien mengenali bahwa belajar bagaimana bertenggang rasa dengan keragu-raguan dan ketidakpastian dan bagaimana caranya hidup tanpa ditopang bisa merupakan tahap yang perlu dialami daam perjalanan dari hidup yang serba tergantung kea lam kehidupan sebagai manusia yang lebih autonom. Terapis dan klien dapat menggali kemungkinan yang ada, yaitu bahwa melepaskan diri dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa disertai dari pola yang tidak sehat dan membangun gaya hidup baru bisa berkurang pada saat klien mengalami hal-hal yang ebih memuaskan dengan cara-cara hidup yang lebih baru. Maakala klien menjadi lebih percaya diri maka kecemasan mereka sebagai akibat dari ramalan-ramalan akan datangnya bencana akan menjadi berkurang.
6.      Kesadaran Akan Maut dan Ketiadaan : Implikasi Konseling. 
Latihan dapat memobilisasikan klien untuk secara sungguh-sungguh memantapkan waktu yang masih mereka miliki, dan ini bisa menggugah mereka untuk mau menerima kemungkinan bahwa mereka bisa menerima keberadaannya sebagai mayat hidup sebagai pengganti kehidupan yang lebih bermakna.
Kelebihan Terapi Humanistik-Eksistensial
·       Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri;
·         Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri
·         Memanusiakan manusia.
Kelemahan Terapi Humanistik-Eksistensial
·         Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal;
·         Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas;
·      Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri);
·         Memakan waktu lama.

Sumber :
Feist, J & Feist,G. (2010). Teori kepribadian. Salemba : Humanika
Semiun,Y.(2006). Kesehatan mental 3. Kanisius : Yogyakarta
Lubis, L, N. (2011). Memahami dasar-dasar konseling dalam teori dan praktik. Jakarta : Kencana Prenada Media Group
Corey, G. (1995). Teori dan praktek konseling dan psikoterapi. Semarang : PT IKIP Semarang Press



Rabu, 30 Maret 2016

Teknik Analisis Mimpi


Teknik Analisis Mimpi dari Terapi Psikoanalisa
Dari studi Sigmund Freud yang mendalam tentang mimpi, banyak melahirkan pandangan kritisnya tentang mimpi. Bagi Freud, mimpi merupakan sebuah perwujudan dari materi atau isi yang tidak disadari oleh individu, sedangkan materi dan isi ini memasuki kesadaran individu lewat jalur yang tersamar dan bersifat halusinasi atas keinginan-keinginan yang terpaksa dan bersifat ditekan. Menurut Freud mimpi memiliki dua taraf, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten ini terdiri atas motif-motif yang disamarkan, tersembunyi, simbolik, dan tidak disadari. Karena begitu menyakitkan dan mengancam, maka seperti dorongan-dorongan seksual dan perilaku agresif yang tidak disadari ditransformasikan ke dalam isi manifes yang lebih dapat diterima, yaitu impian yang tampil pada si pemimpi dengan sebagaimana adanya.

Teori tentang mimpi yang paling penting bagi Freud adalah kaitan antara distorsi mimpi dengan suatu konflik batiniah atau semacam ketidak jujuran batiniah. Oleh karena itu Freud mencetuskan sebuah teknik yaitu teknik analisis mimpi. Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh pemahaman kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan sebelumnya. Saat kita tidur, pertahanan-pertahanan dalam diri kita melemah, sehingga perasaan-perasaan yang tadinya direpres akan muncul ke permukaan, meski dalam bentuk lain (dunia mimpi). Dari sini Freud memandang bahwa mimpi merupakan “jalan istimewa menuju ketidaksadaran”, karena melalui mimpi tersebut hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan tak sadar dapat diungkapkan. Pada teknik ini biasanya para psikoterapis memfokuskan mimpi-mimpi yang bersifat berulang, menakutkan, dan sudah pada taraf yang mengganggu. 


Nah, dalam teknik ini, tugas dari terapis adalah mengungkap makna-makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol yang terdapat dalam isi manifest dari mimpi. Di dalam proses terapi, terapis juga dapat meminta klien untuk mengasosiasikan (mengelompokkan) secara bebas sejumlah aspek isi manifes impian untuk mengungkap makna-makna yang terselubung dari mimpi klien..begitu.

Demikian yang dapat saya sampaikan mengenai teknik analisis mimpi dari terapi psikoanalisa, semoga bermanfaat dan terimakasih..

Sumber :
D.Gunarsa, Prof.DR.Singgih. (1992). Konseling dan Psikoterapi. Gunung Mulia: Jakarta.


Kamis, 24 Maret 2016

Kelebihan serta kekurangan terapi psikoanalisa



Psikoanalisa, ketika mendengar kata tersebut yang terlintas ialah sosok Sigmund Freud yang mengembangkan pendekatan psikoanalisa dan juga sebagai bapak psikologi yang berasala dari Jerman. Sigmund Freud pertama kali memperkenalkan psikoanalisa ini dari bukunya yang berjudul Dream Interpretation pada tahun 1900. Dalam psikoanalisa sendiri terdapat jenis terapi berkonsep pada struktur kepribadian (id, ego, superego), kesadaran dan tidaksadaran, kecemasan, dan pandangan tentang sifat-sifat manusia. 
 
Tujuan dari terapi psikoanalisis sendiri ialah berfokus pada upaya membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari dalam diri klien dan mengajak klien mengalami kembali pengalaman dimasa kanak-kanaknya. 

 Hasil gambar untuk freud dream interpretation
Dalam penerapannya sendiri, terapi psikoanalisis ini tak luput dari beberapa kelebihan dan kekurangan, dari sisi kelebihan terapi psikoanalisis ini adalah; memiliki dasar teori yang kuat, dapat lebih mengetahui masalah pada diri klien, karena prosesnya dimulai dari mencari tahun pengalaman-pengalaman masa lalu pada diri klien, dan dapat membuat klien mengetahui masalah apa yang tidak dia ketahui sebelumnya. Namun dari beberapa kelebihan tersebut muncul beberapa hal yang dianggap sebagai kekurangan, yaitu; waktu yang dibutuhkan dalam terapi terlalu panjang, memakan banyak biaya bagi klien, bisa membuat klien menjadi jenuh karena waktunya yang lama dan diperlukan terapis yang benar-benar terlatih untuk melakukan terapi.
Demikian yang dapat saya sendiri paparkan mengenai kelebihan dan kekurangan dari terapi psikoanalisis beserta basa-basinya. Terimakasih..

Sumber :
Basuki, A. M Heru. 2008. Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma.

Gambar :
https://www.google.co.id/search?q=freud&newwindow=1&biw=1920&bih=980&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiB0paY0tnLAhUN1I4KHW8CCb8Q_AUIBigB#imgrc=s8Rr0LUZwL6ssM%3A
https://www.google.co.id/search?q=freud&newwindow=1&biw=1920&bih=980&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiB0paY0tnLAhUN1I4KHW8CCb8Q_AUIBigB#newwindow=1&tbm=isch&q=freud+dream+interpretation&imgrc=zRyDIwCf-zG0kM%3A